Tujuan global dalam memerangi kusta
Penularan
Di Indonesia pada 2020, 16.704 penderita kusta baru ditemukan. Angka prevalensi turun sedikit ke 0.62, yang juga diakibatkan oleh kurang kegiatan penemuan kasus pada saat pandemi. Tingkat anak di antara semua kasus baru adalah 9.14, yang berarti tingkat penularan masih tinggi.
Sulawesi Selatan mempunyai angka prevalensi 1.23
Apa itu Kusta
Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman namanya MYCOBACTERIUM LEPRAE.
Kuman kusta terutama menyerang kulit dan saraf tepi.
Tanda utama:
- Bercak kulit yang mati rasa
- Penebalan saraf yang disertai gangguan fungsi
- Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan kuman kusta
Pengobatan
KUSTA BISA SEMBUH
dengan pengobatan MDT = Multi-drug therapy yang harus diminum selama 6 bulan (tipe PB) atau 12 bulan (tipe MB)
Disabilitas karena kusta DAPAT DICEGAH dengan
- Pemeriksaan dan Pengobatan dini.
- Meminum obat (MDT) secara teratur.
- Bila timbul penyulit/reaksi, segera periksakan diri ke Puskesmas terdekat
- Bagi yang sudah mengalami disabilitas diperlukan Perawatan Diri




Penularan
Penularan terjadi dari orang yang sedang mengalami kusta yang tidak diobati ke orang sehat melalui pernapasan atau kontak langsung yang erat dan lama.
Kusta tidak menular melalui
- Bersalaman
- Pelukan
- Makan bersama
- Tinggal / kerja bersama
- Hasil produksi penderita kusta
- Pakaian
Kusta bukan penyakit keturunan, kutukan, guna-guna, dosa ataupun makanan.
Reaksi
Reaksi kusta adalah beberapa gejala yang bisa muncul tiba-tiba dalam perjalanan penyakit kusta dengan tanda-tanda, misalnya, benjolan-benjolan merah yang panas dan nyeri, demam, nyeri sendi-sendi.
Reaksi bukanlah kekambuhan kusta.
Namun jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan kerusakan pada tangan, kaki, mata: Segera periksakan diri ke Puskesmas.
Stigma dan Diskriminasi

Salah persepsi tentang kusta
Kusta dianggap adalah penyakit keturunan atau disebabkan oleh kutukan, guna-guna atau dosa. Disabilitas akibat kerusakan saraf dipandang sebagai bukti bahwa kusta tidak pernah sembuh. Kusta dilihat sebagai aib keluarga dan sebagai penyakit orang kelas bawah.
Persepsi-persepsi yang salah tentang kusta menimbulkan stigma dan diskriminasi di masyarakat dan berujung pada orang yang sedang atau pernah mengalami kusta menstigma diri mereka sendiri.
Self Stigma
Self-Stigma mengakibatkan orang tidak percaya diri, malu, takut dijauhi, menyembunyikan diri, merasa tidak mampu, takut menularkan ke orang lain dan yakin tidak bisa menikah.
Diskriminasi
Diskriminasi akibt kusta masih banyak terjadi di masa kini. Orang yang pernah mengalami kusta masih kadang-kadang diusir dari keluarga dan masyarakat, diisolasi dan dikucilkan, anak yang mengalami kusta tidak boleh bersekolah dan orang tidak boleh ikut kegiatan apapun dalam masyarakat. Mereka ditolak di tempat umum seperti dikendaraan, tempat ibadah, tempat makan, hingga ikut pemilihan. Orang yang sedang dan pernah mengalami kusta susah untuk mendapatkan jodoh.

Kami bekerja dengan orang yang sedang dan pernah mengalami kusta untuk mengembalikan kepercayaan diri dan mengatasi stigma diri, dan kami mengedukasi masyarakat tentang kusta yang sebenarnya.
Disabilitas
Disabilitas akibat kusta dapat dicegah dengan pengobatan cepat dan teratur.
Angka orang dengan disabilitas tingkat 2 pada saat diagnosa adalah 6.4% pada tahun 2019 di Indonesia. Angka di Sulawesi Selatan adalah 6.89% atau 79 orang.
Kusta dan reaksi kusta bisa menyebabkan disabilitas dengan merusak saraf tepi tubuh. Kerusakan saraf dapat menyebabkan mati rasa dan kelemahan otot.
Untuk menghindari disabilitas bertambah dan menyembuhkan luka, penting untuk melakukan Perawatan Diri.

Luka pada Tangan dan Kaki
Orang dengan mati rasa tidak merasakan sakit ketika melukai dirinya sendiri. Jika luka kecil pun tidak diobati, akan menjadi lebih besar dan terinfeksi. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya jari tangan atau kaki sampai dengan amputasi.

Kelemahan Otot
Jika saraf-saraf tertentu rusak, otot-otot tangan atau kaki kehilangan kekuatannya. Lama kelamaan jari menjadi bengkok dan kaku. Tangan dan kaki dengan otot yang lemah beresiko terluka.

Kerusakan pada Mata
Kelemahan otot juga bisa terjadi pada mata. Ini berbahaya, karena mata tidak bisa tertutup sepenuhnya sehingga mudah rusak. Kerusakan pada mata dapat menyebabkan kebutaan.
Video ini tentang Kelompok Perawatan Diri ini memperlihatkan cara mencegah luka dan disabilitas.
Video ini dibuat di Gowa, Sulawesi Selatan, bersama PerMaTa Makassar dan Gowa, didukung oleh NLR
Strategi Kusta Global 2021–2030
Visi jangka panjang: Zero Kusta
Zero Infeksi dan Penyakit – Zero Disabilitas – Zero Stigma dan Diskriminasi
Target global untuk 2030:
120 Negara
Tanpa Kasus Baru
70% Pengurangan
Jumlah kasus baru yang ditemukan
90% Pengurangan
Kasus baru dengan disabilitas tingkat 2
90% Penurunan
Kasus anak baru dengan kusta
Partisipasi organisasi dan jaringan orang yang pernah mengalami kusta
dalam mencapai target tersebut dianggap sangat penting
PerMaTa Sulawei Selatan berpartisipasi aktif untuk mencapai ZERO KUSTA